mlm is your life

hpanetwork.id - member of PT Herba Penawar Alwahida Indonesia - lahirkan pengusaha muslim yang tangguh
Showing posts with label financial intelligence. Show all posts
Showing posts with label financial intelligence. Show all posts

Monday, September 17, 2018

5 Jenis Passive Income yang Menambah Penghasilan Secara Signifikan

Secara umum, pendapatan atau income bisa dibagi menjadi dua jenis yaitu active income dan passive income. Active income merupakan pendapatan yang didapatkan dari aktivitas maupun profesi yang kita tekuni. Contoh active income seperti gaji, atau penghasilan Anda dari berjualan sehari-hari. 

Active Income bisa Anda raih bila Anda melakukan hal-hal tertentu, misalnya seperti bekerja. Bila tidak bekerja Anda tidak mendapatkan penghasilan, atau bila Anda tidak mendapatkan pembeli hari ini Anda tidak mendapatkan penghasilan. Itulah yang dinamakan active income. 

Sementara passive income merupakan pendapatan yang didapatkan dari materi yang kita miliki. Passive Income tersebut datang dengan sendirinya setelah kita menginvestasikan sejumlah uang atau aset. Misalnya, Anda membangun sebuah kontrakan, lalu Anda menyewakannya kepada orang lain. Setiap bulan Anda mendapatkan uang dari kontrakan tersebut, itu disebut sebagai passive income. 

Sebagai seorang pengusaha, Anda dituntut untuk pandai dalam mengatur keuangan. Idealnya, pendapatan perbulan Anda, disisihkan untuk beberapa hal seperti pengeluaran sehari-hari, tabungan dan dana darurat, investasi serta untuk kebaikan atau beramal. Adapaun presentasinya disesuaikan dengan pendapatan Anda perbulannya dan tingkat kebutuhan yang mendesak saat ini. 

Selain tabungan dan dana darurat, Anda juga perlu menginvestasikan pendapatan Anda ke beberapa hal yang bisa mendatangkan Anda passive income baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Berikut ini jenis passive income yang bisa Anda coba untuk menginvestasikan uang Anda agar dapat lebih berkembang. 

Bisnis yang berjalan otomatis
Bisnis yang berjalan secara otomatis ini maksudnya seperti bisnis franchise yang besar dan sudah terbukti omzetnya. Misalnya Alfamart, Indomart, dan beberapa franchise lain yang sudah terbukti omzetnya. Memang, investasi pada bisnis semacam ini memerlukan modal yang besar namun bila Anda memiliki aset sebesar itu, menginvestasikan uang ke bisnis semacam ini bisa jadi mampu mendatangkan profit yang besar. 

Properti
Seperti yang sudah dicontohkan di atas, properti bisa mendatangkan passive income yang cukup besar bagi Anda. Anda bisa mendirikan sebuah kontrakan atau apartemen untuk dikontrakkan. Bisnis passive income dari sektor ini terbilang cukup menggiurkan mengingat harga tanah dan property setiap tahunnya mengalami kenaikan. 

Paper Asset
Passive Income lainnya yang bisa mendatangkan keuntungan besar bagi Anda adalah paper asset berupa saham, surat-surat berharga, atau reksadana. Pada saham, Anda akan mendapatkan keuntungan dari nilai saham yang naik ketika dijual, pembagian dividen setiap beberapa bulan atau tahun sekali, atau pembagian bonus saham. 

Network Selling
Network selling atau yang biasa disebut juga sebagai Multi Level Marketing kehadirannya sudah tak asing lagi di Indonesia. Di Indonesia, kehadiran MLM sering dikonotasikan menjadi sesuatu yang negatif karena banyak kasus penipuan yang sering terjadi. Namun, Multi Level Marketing sebenarnya merupakan salah satu teknik marketing sah yang sudah dikenal sejak puluhan tahun lalu.  

Melalui bisnis ini sudah terbukti mencetak banyak milyader dengan asetnya yaitu jaringan pelanggan yang tersebar secara luas. Bisnis MLM yang benar adalah bisnis MLM yang tetap memprioritaskan produk sebagai jualan utamanya, bukan bonus tidak jelas yang menimbulkan money game.

Royalti
Royalti merupakan jumlah yang harus dibayarkan untuk penggunaan property seperti hak paten, hak cipta, atau sumber daya. Royalti melingkupi penggunaan hak cipta pada bidang kesusastraan, karya ilmiah, desain model, merek dagang atau bentuk kekayaan intelektual lain. Misalnya, bila Anda menulis sebuah buku, itu bisa menjadi passive income bagi Anda karena royalti akan terus Anda terima seiring dengan masih adanya penjualan buku tersebut. Jakarta, Elshinta

Sunday, December 24, 2017

Tips Ngatur Duit Buat Para Pengusaha MLM

Saat ini di Indonesia marak sekali orang yang terjun ke dunia bisnis. Salah satunya bisnis Multi Level Marketing atau MLM yang mulai dari produk kecantikan, kesehatan bahkan alat kebutuhan rumah tangga.

Pelakunya sendiri juga dari berbagai kalangan mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja kantoran sampai ibu rumah tangga. Sebenarnya apa sih pengertian dari bisnis MLM? MLM biasa disebut bisnis jaringan atau banyak yang menyebutnya bisnis modal kecil dengan potensi keuntungan besar. 

Bisnis MLM bisa dikerjakan kapan saja atau mempunyai waktu yang fleksibel. Bisnis ini juga menjanjikan penghasilan yang besar jika dilakukan dengan kerja keras dan cerdas. Semakin besar omset yang dihasilkan semakin besar pula komisi yang di dapat.

Karena bisnis MLM menghasilkan komisi yang sangat besar maka diperlukan perencanaan keuangan yang baik, berikut tipsnya:

1. Memisahkan rekening pribadi dan rekening usaha
Sebagai pengusaha MLM sebaiknya memisahkan antara rekening pribadi dan rekening usaha. Di sini pengusaha MLM juga sebagai pelaku sehingga wajib untuk menggaji dirinya sendiri. Dengan sistem ini maka pengusaha hanya akan membelanjakan gajinya untuk kepentingan pribadinya. Dan yang paling penting adalah sediakan dana untuk operasional beberapa bulan ke depan di rekening usaha untuk operasional karena pengusaha MLM berbeda dengan karyawan yang setiap bulan mendapat gaji yang pasti.

2. Membuat catatan keuangan
Sangat penting mempunyai buku catatan yang isinya mencatat setiap uang masuk dan keluar dari berbagai pos. Dengan mencatat kita bisa mengetahui mana pengeluaran yang bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan sehingga kita bisa mengalokasikan ke pos yang lebih penting. Selain itu pengusaha MLM juga tahu berapa asset yang dimiliki, berapa besar keuntungan sehingga tahu perkembangan usaha MLM yang dijalaninya. Dan jangan lupa untuk mengevaluasinya setiap bulannya.

3. Komitmen dan Disiplin
Semua hal bisa dilakukan begitu juga dengan perencanaan keuangan yang baik. Meskipun belum ada jaminan berhasil paling tidak kita sudah berusaha komitmen dan disiplin dalam mengelola keuangan untuk lebih baik dari waktu ke waktu. Sesuatu yang besar dimulai dengan sesuatu yang kecil dan sederhana.

Mudah kan? Keliatannya saja mudah, tapi buktinya banyak orang yang tidak berhasil mengelola keuangan mereka, terutama ketika penghasilan tidak pasti.

Thursday, September 28, 2017

Penting Mengajari Anak Keuangan, Mengapa?

Kita semua pernah mendengar kutipan dari Benjamin Franklin, "satu sen yang disimpan adalah satu sen dolar yang diperoleh". Ekspresi ini bahkan lebih benar dalam ekonomi volatile saat ini. Perencanaan keuangan yang bijaksana mendorong pembelanjaan dan penghematan yang bijak untuk masa depan. Mempelajari kebiasaan belanja yang cerdas dapat memberi dampak besar pada kehidupan anak muda. Pelajaran finansial yang dipelajari anak-anak saat ini akan berlangsung sampai dewasa.

Ada banyak cara sederhana untuk memasukkan pelajaran keuangan ke dalam kehidupan anak Anda sehari-hari, berikut adalah beberapa saran.

  • Mengubah belanjaan menjadi momen yang bisa diajarkan. Ini adalah kesempatan besar untuk mengajari anak-anak tentang belanja perbandingan. Ajari anak cara berbelanja menurut nilai dan bukan merek. Ingatlah untuk selalu berbelanja dengan daftar. Belanja dengan daftar membantu anak memahami bagaimana persiapan sebelumnya dapat menyebabkan penghematan besar pada akhirnya.
  • Berikan anak uang saku. Ada perbedaan pendapat tentang apakah memberi anak uang saku atau tidak. Sementara beberapa orang mungkin menganggapnya sebagai "memanjakan" anak-anak, memberi anak-anak penghasilan "reguler" bisa menjadi kesempatan besar untuk mengajarkan mereka dasar-dasar penghasilan, pengeluaran, dan penghematan. Orang tua juga bisa menggunakan uang saku untuk membantu anak mempelajari perbedaan antara keinginan dan kebutuhan.
  • Bantu anak Anda membuka usaha kecil. Ini adalah cara yang bagus bagi pengusaha muda untuk belajar keterampilan finansial. Petualangan memulai usaha kecil adalah pelajaran finansial dan kepercayaan diri yang besar untuk anak-anak. Anak-anak belajar bagaimana mengatur dan mencapai tujuan, memahami keuntungan dan harga, dan selanjutnya mengembangkan keterampilan matematika dasar.
  • Buka rekening giro/tabungan untuk anak Anda. Banyak bank dan credit unions menawarkan kesempatan kepada orang tua untuk membuka rekening atas nama anak mereka. Memiliki dan memelihara akun membantu anak belajar keterampilan hidup yang penting.
Ada banyak cara untuk mengajarkan anak tentang uang. Hal terpenting yang bisa dilakukan orang tua adalah berkomunikasi dengan anak-anak mereka tentang pengelolaan uang dan penganggaran. Orang tua harus menawarkan beberapa contoh bagaimana uang diperoleh dan memberi anak kesempatan untuk membantu memutuskan bagaimana pembelanjaannya. Dan yang terpenting orang tua perlu mendidik anak-anak tentang bahaya pengeluaran terlalu banyak, meminjam terlalu banyak, dan membayar bunga tinggi.detik

Wednesday, January 9, 2013

Recovery Usai Liburan

Halo apa kabar, bagaimana dengan liburan akhir tahun Anda? Pasti sangat menyenangkan ya? Ada yang liburannya diisi dengan sekadar bersantai di rumah, namun banyak juga teman-teman kita yang menghabiskan liburannya dengan bepergian mengunjungi tempat wisata baik itu didalam kota maupun di luar kota. Bahkan tidak sedikit pula orang yang menghabiskan waktu liburannya ke luar negeri.

Berlibur memang sangat menyenangkan, karena membuat kita keluar dari rutinitas yang membuat pikiran penat. Namun bila sepulang dari liburan kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa kantong kita menjadi kempes dan keadaan ekonomi dalam negeri keluarga menjadi kacau, tentu akan menjadi masalah baru lagi buat kita.

Bukan hanya bonus akhir tahun yang habis tidak tersisa, bahkan uang tabungan ikut tergerus karena skenario anggaran belanja yang sudah dicanangkan dari sebelum liburan ternyata jebol akibat banyak kebutuhan tidak terduga ataupun hasrat belanja yang tidak mampu dikendalikan.

Daripada terus menyesali nasi yang sudah jadi bubur, lebih baik ke dalam bubur itu kita tambahkan daging ayam, bawang goreng, seledri dan bumbu-bumbu lainnya agar bisa nikmat untuk dimakan hehehe. Maksudnya daripada menyesali hal yang sudah terjadi, yuk kita atur siasat lagi biar keuangan kembali sehat. 

Bayar dulu kewajiban
Biar kata uang cekak sehabis liburan, yang namanya tagihan dan kewajiban membayar utang pasti tidak akan ikut-ikutan libur, betul tidak? Daripada terkena denda yang ujung-ujungnya Anda harus membayar lebih besar lagi, maka bayarkan dahulu kewajiban-kewajiban Anda sebelum membelanjakan uang untuk hal yang bersifat konsumtif.

Kewajiban-kewajiban ini bisa berupa uang sekolah anak, bayar listrik, bayar tagihan telepon, cicilan kendaraan, cicilan rumah dll, termasuk didalamnya cicilan-cicilan kredit yang ada. Jangan lupa juga membayar bila Anda memiliki asuransi yang pembayarannya dicicil tiap bulannya. Karena bagaimanapun anda membutuhkan proteksi dari asuransi tersebut, yang apabila tidak dibayarkan preminya maka bisa jadi proteksi menjadi hilang.

Apabila Anda memiliki tagihan kartu kredit, maka bayarlah sesuai limit minimalnya dahulu. Sisanya bisa anda lunasi pada bulan-bulan berikutnya ketika kesehatan keuangan anda sudah lebih baik.

"Loh bukannya bila membayar limit minimal maka akumulasi tagihannya justru akan menjadi lebih besar?" Yup itu benar, namun keadaan yang kita hadapi sekarang adalah keadaan darurat di mana uang ditangan sedang dalam kondisi krisis.

Membayar minimal maka Anda paling tidak untuk sementara bisa terhindar dari denda dan tagihan para debt collector, dan Anda masih memiliki sisa uang lagi untuk digunakan pada hal lainnya. Tapi jangan lupa segera dilunasi ya sisa tagihannya. 

Menabung
What?!Sudah keadaan krisis masih disuruh menabung juga? Yup benar, keadaan krisis bukan berarti Anda tidak perlu menabung. Sekecil apapun jumlahnya, sisihkan dari awal uang yang ada untuk ditabung, tentunya setelah semua kewajiban terpenuhi dulu. Karena pada hakikatnya menabung adalah menyiapkan sejumlah dana untuk keperluan kita di masa mendatang.

Bayangkan bila keadaan krisis kita sudah gelagapan, lalu terjadi hal yang diluar dugaan yang membuat kita harus keluar uang lebih banyak lagi dan tidak ada tabungan, pasti akan semakin berabe jadinya. Uang yang Anda tabung pun sedikit demi sedikit diinvestasikan ke dalam produk investasi yang cocok dengan karakter anda, agar bisa lebih optimal lagi pertumbuhannya.

Atur pengeluaran
Masa krisis keuangan pasti sangat tidak menyenangkan, namun memang mau tidak mau kita harus menjalani konsekuensi yang terjadi. Pengencangan ikat pinggang alias memangkas pos-pos pengeluaran yang tidak perlu adalah salah satu kata mujarabnya.

Bila dirasa ada pengeluaran yang diperlukan, coba pertimbangkan lagi seberapa mendesaknya kebutuhan tersebut untuk dipenuhi. Redam dan atur hasrat belanja kita, karena terkadang kita membeli sesuatu hal bukan karena butuh tetapi hanya merupakan keinginan sesaat saja.

Singkirkan rasa gengsi yang hanya membuat kantong Anda semakin merana saja. Sebagai alternatif membeli di kantin kantor yang harganya relatif mahal, maka Anda bisa membawa makan siang dari rumah yang lebih hemat, sehingga akan ada uang yang lebih banyak sebagai ongkos transport ke kantor atau keperluan lainnya.

Usahakan juga untuk tidak menambah utang baru kecuali sangat terpaksa. Godaan untuk menggesek kartu kredit bisa sangat besar, namun pikirkan lagi sebelum anda menggunakannya. Jadi jauhilah pusat-pusat perbelanjaan agar tidak tergoda dengan sale yang ada.

Selamat mengatur ulang keuangan Anda, semoga semakin sukses di tahun yang baru. 

Andy Nugroho, CFP
Perencana Keuangan
MRE Financial & Business Advisory

Mitra Rencana Edukasi
PT I One Pacific Place 15th Floor I Sudirman Central Business District I Jl. Jend. Sudirman Kav 52-53, Jakarta Selatan 12190
T. 021-2550 2425
F. 021-2550 2555
www.mre.co.id

Follow us @mreindonesiaJoin "Dare to Dream Indonesia", our free entry Program Coaching & Business Mentoring. http://www.facebook.com/pages/Dare-to-Dream-Indonesia/11291371265

See us live at www.financeku.com, our Live Video Streaming workshop on Financial Planning, Investment & Entrepreneueship 


Referensi: 
http://economy.okezone.com/read/2013/01/03/315/740690/recovery-usai-liburan

Pengin baca dirumah? download aja disini,,,

Monday, February 27, 2012

Perencanaan Keuangan dalam Keluarga

“Saya ingin beli rumah”

‘”Saya ingin beli mobil”

“Saya ingin liburan ke Jepang”

“Saya ingin buka bisnis sendiri”

…..’ingin ini, ingin itu…..”

Kalau Anda pernah mengucap salah satu kalimat di atas dalam hati, saya yakin Anda tidak sendirian. Manusia memang ditakdirkan untuk punya keinginan alias WANTS, dan diberi kesempatan untuk mewujudkannya. Nah, sayangnya, seringkali kita akhirnya mewujudkan WANTS yang tidak penting, sehingga penghasilan setiap bulan sepertinya habis tak bersisa tanpa arti.

Uang tentu saja bukan segalanya. Namun, tanpa uang, bagaimana Anda mau membeli pendidikan yang baik? Tanpa uang, bagaimana Anda bisa membeli rumah? Oleh sebab itu, mulai sekarang kita jangan cuma bermimpi, tapi harus berencana. Rencana adalah semua mimpi yang punya jangka waktu dan strategi. Untuk mimpi yang butuh uang, maka rencana keuangan merupakan jawabannya.

Perencanaan keuangan (Financial Planning) adalah sebuah proses dimana seorang individu berusaha untuk memenuhi tujuan-tujuan finansialnya melalui pengembangan dan implementasi dari sebuah rencana keuangan (financial plan) yang komprehensif.

Dari definisi itu, maka perencanaan keuangan itu secara konsep merupakan suatu aktifitas yang terdiri dari beberapa elemen. Artinya, kalau seseorang bisa dengan bangga menyatakan “Yes, I am doing financial planning now”, maka dia harus punya beberapa hal berikut :
  • Harus ada tujuan-tujuan financial yang mau dicapai,
  • Harus ada jangka waktu atau periode untuk memenuhi tujuan tersebut,
  • Harus ada action plan yang jelas dan praktis untuk dilakukan,
  • Harus ada sumber daya yang bisa digunakan untuk menjalankan action plan,
  • Harus ada sejumlah faktor resiko yang terkait dengan pilihan sumber daya.
Jika ternyata ada satu elemen saja yang hilang, maka konsep perencanaan keuangan itu sudah tidak ada alias bubar. Fakta lapangan, masih banyak individu yang kerap mengaku punya rencana keuangan, tetapi tidak bisa menyebutkan tujuan finansialnya secara pasti. Atau ada juga yang punya tujuan financial tetapi tidak memiliki action plan yang jelas untuk mencapai tujuannya tersebut.

Selain itu, perencanaan keuangan adalah sebuah proses yang tidak pernah berhenti alias berkelanjutan. Hidup itu ibarat roda yang terus berputar demikian juga proses perencanaan keuangan. Hal ini dikarenakan keadaan keuangan seseorang atau sebuah keluarga akan selalu berubah-ubah sejalan dengan perubahan kebutuhan keuangan, keadaan ekonomi, dan tahapan kehidupan.

Contohnya, bila sebelumnya lajang kemudian menikah, tentunya akan berubah secara drastis rencana keuangan seseorang. Tadinya hanya untuk satu orang sekarang sudah menjadi keluarga. Begitu pula bila keluarga mengalami penambahan anggota keluarga melalui kelahiran anak maupun pengurangan anggota keluarga karena meninggal dunia. Semua perubahan itu tentunya memiliki dampak financial yang tidak sedikit.

Perencanaan keuangan yang baik akan menghasilkan sebuah rencana keuangan (financial plan) yang jelas dan memudahkan si pemilik rencana untuk mencapai tujuan finansialnya. Rencana keuangan ini ibarat sebuah peta blueprint yang dapat menunjukkan kemana arah kondisi keuangan individu atau keluarga akan berjalan. Sebuah rencana keuangan yang komprehensif dan lengkap haruslah terdiri dari empat bagian berikut :
  • Manajemen kekayaan (wealth management),
  • Perencanaan asuransi (risk and insurance planning),
  • Perencanaan pensiun (pension planning),
  • Perencanaan pengalihan harta bawaan (pension planning).
Jadi, kalau ternyata rencana keuangan kita saat ini baru terkonsentrasi hanya di manajemen kekayaan saja, maka artinya konsep yang kita pahami mengenai sebuah rencana keuangan masih belum tepat.

Pentingnya Punya Rencana Keuangan

Namanya rencana tentu tidak akan menjamin 100% keberhasilan. Tapi, tanpa rencana, saya yakin keberhasilan itu akan semakin sulit diperoleh. Karena Anda tidak tahu dengan pasti kapan akan sakit, kapan akan berhenti bekerja, dan juga soal umur hidup di dunia, maka perencanaan keuangan merupakan panduan yang bisa membantu Anda.

Dengan penghasilan dan kekayaan yang diperoleh, maka timbul tanggung jawab yang lebih besar untuk mengelolanya dengan baik untuk mencapai hidup yang indah dan sejahtera. Saya percaya rezeki itu sudah diatur Yang Maha Esa, namun tugas kita untuk bisa mengelola rezeki itu dengan sebaik-baiknya. Live a Beautiful Life! (ifpcindonesia.com)

Wednesday, February 15, 2012

Agar Keuangan Keluarga Aman, Ini Trik Menghadapinya

Gaji seperti numpang lewat. Kalimat ini mungkin sudah akrab di telinga atau mungkin juga Anda sendiri yang mengalaminya. Masalahnya, bisa jadi lantaran gaji yang tidak mampu menutupi seluruh kebutuhan atau bisa juga karena Anda tidak mampu mengelolanya dengan benar. Agar keuangan keluarga aman, ada baiknya mulai belajar mengelola penghasilan.

Perencana keuangan Safir Senduk memberikan tiga langkah mengelola keuangan yang pas. Simak, langkah-langkahnya:

Tetapkan sistem pengelolaan keuangan

Maksudnya, sistem keuangan yang biasa Anda lakukan dalam keluarga. Kalau semua pendapatan digunakan untuk biaya hidup, sehingga di akhir bulan tidak tersisa alias keluar semua, Safir mengategorikan Anda sebagai golongan miskin.

Tapi kalau pendapatan Anda, selain untuk hidup masih bisa dibelikan barang-barang konsumtif, seperti elektronik, pakaian, sepatu dan lainnya, berarti Anda masuk golongan pas-pasan atau menengah.

Nah, Anda masuk kategori kaya apabila pendapatan, selain digunakan untuk biaya hidup, masih dapat digunakan untuk membeli barang sekaligus harta produktif. Biaya produktif berupa tabungan, asuransi, reksa dana, emas batangan, deposito saham, bisnis dan lainnya yang bisa menambah pendapatan. ‘’Jadi, kekayaan itu tidak ditentukan dari besarnya pendapatan seseorang, tapi dari seberapa banyak harta produktif yang Anda miliki,’’ papar Safir dalam satu acara.

Lima unsur 'kekayaan'

Kekayaan itu sendiri terdiri atas lima unsur, yaitu harus ada penghasilan yang masuk, pengeluaran yang bisa dibayar setiap bulan, memiliki simpanan uang tunai, ada pos-pos investasi, dan proteksi (asuransi).

Untuk penghasilan yang masuk, menurut pemilik Biro Perencanaan Keuangan Safir Senduk dan Rekan ini, banyak pos yang bisa digali selain dari gaji bulanan. Misalnya saja, jual beli barang, menjual keahlian, bisnis, MLM, investasi bagi hasil, investasi pendapatan tetap, jual beli produk investasi (saham).

Untuk pengeluaran yang bisa terbayar setiap bulan, pria yang belajar ilmu keuangan keluarga secara otodidak ini membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan harus sekarang, ada batasnya, sedangkan keinginan belum tentu dibutuhkan dan tidak ada batasnya.

Oleh karena itu, perlu skala prioritas mana yang harus dikeluarkan lebih dulu. Pertama yang harus dikeluarkan adalah zakat dan pengeluaran yang ada batas tanggalnya, misalkan membayar telepon, listrik, air. Setelah itu pengeluaran untuk kebutuhan seperti sembako. Ketiga pengeluaran karena keinginan berhubungan dengan keinginan itu.

Bagaimana dengan simpanan tunai? Anda harus memiliki simpanan tunai untuk tiga hingga enam bulan ke depan. Alasan Safir, sebagai pegangan kalau terjadi sesuatu, misalkan di PHK. Perlu diperhatikan bahwa simpanan suami-istri jangan disatukan, tapi masing-masing harus memiliki sendiri.

Perlu diperhatikan pula pos-pos investasi persiapan masa depan. Sebaiknya, saran lulusan STIE IBMI Jakarta ini, siapkan semua pos investasi yang bisa Anda dapatkan mulai sekolah anak, pensiun, rumah, kendaraan pribadi, bisnis hingga ibadah haji. Tidak ada salahnya Anda mengenal produk-produk investasi, yaitu tabungan bulanan atau sekaligus.

Yang terakhir wajib Anda miliki adalah proteksi. Miliki semua asuransi, mulai kesehatan, jiwa, kerugian, pensiun. ‘’Andaikan kantor Anda sudah menanggung asuransi tertentu, tidak masalah Anda pun membuat lagi asuransi perorangan,’’ kata dia.

Hati-hati dengan utang
Utang menjadi salah satu penyebab munculnya masalah keuangan. Kalau Anda kepepet mau berutang, pilih dengan siapa akan berutang. Pilih pihak yang memungkinkan bisa dilakukan negosiasi bila Anda terlambat membayar utang.

Bagi Anda yang akan mengambil kredit perlu memperhatikan tips berikut. Ambil kredit jangan lebih dari 30 persen dari penghasilan. Andaikan lebih dari 30 persen sebaiknya dirundingkan kembali, agar cicilan bisa diperkecil. (republika.co.id)

Sunday, February 5, 2012

Personal & Family Financial Structure

'Buatlah fondasi keuangan pribadi dan keluarga Anda seperti pohon yang memiliki akar yang menghujam ke bumi, batang, dan cabangnya kokoh menjulang ke langit dan Insya Allah Bunga, Daun dan Buahnya ada di setiap musim'
(Hari ‘Soul’ Putra)

Jika saat ini di tangan saya ada benda bernama besi dan yang satunya bernama magnet, maka menurut hukum fisika, besi yang mengejar magnet atau magnet yang mengejar besi? Tentu semua sepakat, besilah yang mengejar magnet.

Jika besi itu saya ubah menjadi uang, sementara sang magnet adalah diri Anda, tentu dengan logika yang sama, uanglah yang akan mengejar Anda. Tetapi kenapa, banyak sekali yang terjadi di masyarakat, manusianya yang mengejar uang. Jika Anda adalah besi, dan uang adalah besi, sampai kapanpun, besi tidak akan bisa menempel ke sesama besi.

Jadi bisa kita simpulkan, kenapa manusia tidak pernah menjadi sejahtera, karena dianya besi dan yang dikejar juga besi. Oleh karena itu, agar diri Anda di kejar besi (baca: uang) maka Anda harus mengubah diri Anda menjadi magnet sejati, agar 'besi-besi' tersebut tertarik kepada Anda.

Selagi Anda masih menjadi 'keluarga besi' maka Anda tidak akan pernah menjadi pribadi dan keluarga sejahtera. Apa itu pribadi dan keluarga sejahtera?

Pribadi dan keluarga sejahtera adalah individu atau keluarga yang bisa menyesuaikan dengan kondisi yang ada, yang tidak panik ketika ada masalah sepelik apapun, dan selalu bersandar pada Positive Believe (keyakinan positif) dan mencari jalan keluar (problem solving). Pertanyaan selanjutnya, bagaimanakah menjadi Keluarga sejahtera?

Keluarga sejahtera adalah keluarga yang memahami akar dari tiga dimensi kehidupan, yakni dimensi personal, dimensi sosial, dan dimensi spiritual. Jika saya ibaratkan seperti sebuah pohon, maka pohon yang baik adalah pohon yang akarnya menghujam ke tanah. Artinya fondasi yang dibangun dari pohon tersebut, benar-benar kokoh.

Dalam konteks keuangan, fondasi ini sering disebut dengan Saving-Insurance-Asset (SIA). Setiap keluarga, harus memiliki emergency fund (dana darurat), yang idealnya adalah 24 kali pengeluaran bulanan.

Misal, jika Anda pengeluaran bulanannya sebesar Rp2 juta, berarti emergency fund yang harus Anda sediakan adalah sebesar Rp48 juta. Jika tidak bisa menyisihkan 24 kali pengeluran, boleh antara 6-12 kali, jika tidak juga, minimal tiga kali pengeluaran bulanan.

Emergency fund ini, bisa dialokasikan dengan deposito, investasi, misal: emas, sebagai hedging (lindung nilai/investasi) dari inflasi dan dana darurat di tabungan. Yang pemakaiannya, dimulai dari tabungan yang ada ATM-nya, jika masih butuh mencairkan emasnya, baru langkah terakhir dengan mencairkan deposito.

Selanjutnya memproteksi dalam bentuk insurance yang sangat diperlukan, misal Asuransi Jiwa, Asuransi Kesehatan, Asuransi Kendaraan Bermotor, Asuransi Kerugian terhadap rumah tinggal dll, yang semuanya itu harus sesuai dengan tujuan dan prioritas kita masing-masing.

Selain itu, fondasi yang tidak kalah pentingnya adalah memiliki aset, baik yang secara ekonomi menurun seperti mobil atau motor ataupun secara nilai ekonomi naik, misal tanah dan properti. Setelah akar kuat, baru memikirkan batang dan cabangnya yang harusnya menjulang ke langit. Ini maknanya kita harus melakukan diversikasi pemasukan dengan empat cara:

1. Competence Business

Kita harus memiliki skill atau keterampilan yang sesuai dengan passion/gairah kita dan talent/talenta atau bakat kita. Caranya dengan menginventarisasi apa saja yang menjadi hobi dan kesukaan kita pada sebuah bidang kerja.

Untuk tahu dan paham, kita harus bertanya pada diri kita, apakah saya sudah benar-benar mencintai profesi saya saat ini? Jika ya, berarti Anda sudah pada track yang benar.

2. Retail Business

Retail Business adalah bisnis atau profesi yang tanpa harus adanya kehadiran kita, tetap bisa berjalan. Misal: kita membuka warung makan Padang. Awalnya mungkin kita benar-benar terjun langsung, seperti membeli peralatan dapur/bahan masakan, memasak, menyajikan hingga melayani pembeli.

Tetapi seiring perjalanan waktu, kita mulai bisa mendelegasikan kepada orang lain atau team kita, sehingga kita bisa berinovasi pada bidang lainnya.

3. Brand Business

Setiap orang, memiliki karakter dan sifat masing-masing. Dikenalnya kita oleh orang lain, biasanya karena sifat dan karakter kita. Misal: Mike 'Leher Beton' Tyson. Dalam arena tinju, seorang juara tinju sejati (dengan merengkuh empat gelar dengan versi berbeda, tidak banyak) salah satunya adalah Mike Tyson. Si Mike Tyson ini, identik dengan lehernya yang keras dan sifatnya yang mudah emosional.

Maka dalam hal tertentu, orang lebih mengenal Si Leher Beton ini sebagai petinju dengan sifat di atas, ketimbang sisi-sisi baik dari dirinya. Kita pun harus memiliki sifat dan karakter yang Walk of Talk, berjalan sesuai dengan kenyataan. Caranya kita harus melepaskan topeng kepribadian kita, dengan tentunya mencari uniqueness dan sifat-sifat positif kita beserta portfolio diri yang sesuai.

Misal, jika saya mendeklarasikan diri saya sebagai seorang penulis, minimal ada satu buku yang sudah pernah saya hasilkan, itu disebut portfolio diri.

4. Network Business

Ini cenderung meminimalisir risiko dengan berbagi kepada orang lain, ada tiga contohnya. Pertama, perusahaan besar (big company). Perusahaan besar ini biasanya berbagi risiko dengan membuat IPO (Initial Public Offering) agar perusahaannya mendapatkan tambahan modal dari masyarakat.

Kedua, dengan menggunakan franchise system (system waralaba), agar risiko kerugian, keuntungan dan pengembangan usaha bisa di share pada pihak lain. Dengan catatan, sudah memiliki System Operating Procedure (S.O.P) yang sudah baku, misal seperti Waralaba McDonald.

Ketiga adalah network marketing/MLM, tempat belajar mengenal dunia usaha dan sekolah kepribadian yang akan membentuk insan-insan pembelajar dan entrepreneur dengan modal minimal. (okezone.com)

Wednesday, February 1, 2012

Berhutang Pas, Kantong Pas

Salah satu bagian dalam manajemen keuangan keluarga adalah mengelola hutang. Hampir setiap individu dari kita pernah berhutang. Beberapa dari kita ada yang kurang beruntung mengelola hutangnya sehingga akhirnya mengalami kesulitan finansial akibat hutang yang terlalu agresif dan kesalahan peruntukan hutang. Nah, agar tidak salah dan mengalami kejadian yang tidak menyenangkan dengan hutang mari kita bahas satu per satu tips dan trik berhutang yang baik.

Berhutang? Burukkah?

Berhutang terjadi ketika kita mengalami defisit keuangan (tidak adanya cadangan uang yang mencukupi untuk membiayai sesuatu atau dana untuk membeli sejumlah barang atau jasa tidak bisa dicover melalui cash flow) sedangkan kita membutuhkan sejumlah uang untuk membiayai sesuatu hal yang sangat penting dan mendesak atau sesuatu peluang yang di masa yang akan datang memberikan keuntungan secara finansial buat kita. Berhutang bukan berarti sesuatu buruk selama kita menjaga dan mengelolanya dengan baik, bahkan untuk sebagian orang berhutang bisa digunakan sebagai cara atau teknik untuk melakukan leveraging (mengungkit) kekayaannya.

Berhutang menjadi sesuatu aktivitas yang buruk jika kita gunakan untuk suatu hal yang sifatnya konsumtif, mengutamakan keinginan di luar batas kemampuan, berbunga tinggi dan terlalu agresif selanjutnya kita sebut sebagai hutang buruk. Sedangkan hutang bisa menjadi sebuah peluang ketika kita menggunakannya untuk sesuatu yang bersifat kebutuhan, terkendali, dan merupakan peluang mendapatkan sesuatu yang di masa yang akan datang memberikan keuntungan apabila kenaikan barang atau jasa yang kita beli dengan berhutang meningkat melebihi beban hutang. Hal ini selanjutnya kita sebut sebagai hutang baik.

Mengendalikan Hutang

Langkah pertama mengendalikan hutang adalah dengan cara menentukan berapa tingkat cicilan yang dapat anda tanggung dan anda rasa nyaman dalam membayar cicilannya. Sebenarnya tidak ada rumusan yang benar-benar pas untuk hal ini. Bahkan sesungguhnya tingkat kenyamanan anda berhutang bervariasi ketika anda melalui berbagai tahap siklus kehidupan. Seseorang yang sedang merintis karir di usia muda tentunya memiliki tingkat kenyamanan berhutang yang berbeda dengan orang yang sedang berada di puncak karirnya atau bahkan yang sedang menjelang memasuki pensiun. Namun, setidaknya kita memiliki sebuah titik acuan yang dapat digunakan sebagai parameter utama dalam berhutang.

Aspek pertama yang harus anda ketahui adalah limit atau batas cicilan anda, jangan mencicil melebihi 35% total pendapatan bulanan anda. Bahkan saya pribadi biasanya mereduksi tingkat cicilan seseorang menjadi 25% agar orang tersebut bisa merasa nyaman dan tidak terkungkung dalam hutang dan orang tersebut masih memiliki ruang untuk berhutang di saat situasi darurat serta resiko gagal bayar menjadi lebih rendah. Terlalu agresif dalam berhutang dapat mengakibatkan tekanan dan mengurangi tingkat kebahagiaan seseorang, mengganggu keharmonisan keluarga dan sering menjadi sumber konflik dalam rumah tangga.

Total hutang seseorang dapat dikategorikan menjadi 2 jenis hutang, yaitu hutang perumahan dan hutang konsumtif. Untuk hutang konsumtif, sebaiknya jangan berhutang melebihi 3 tahun dan nilai cicilan tidak lebih dari 15% pendapatan. Hal ini karena hutang konsumtif biasanya berbunga tinggi, dan harga barang konsumtif yang dibeli cenderung turun setiap tahunnya karena aus terpakai. Pertimbangkan membeli secara tunai lebih dianjurkan untuk jenis hutang konsumtif.

Sebelum Berhutang

Persiapkan dana darurat dan asuransi yang memadai sebelum berhutang untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak terduga seperti kehilangan pekerjaan atau harus membiayai perawatan medis ketika anggota keluarga ada yang sakit bahkan apabila pencari nafkah utama meninggal dunia sehingga kewajiban membayar cicilan hutang tidak terganggu.

Pertimbangan berhutang harus memperhatikan tingkat bunga, jenis bunga (flat atau mengambang) serta apakah hutang yang anda ambil mendukung total rencana keuangan anda ke depan. Dalam keputusan berhutang, pengendalian dan perencanaan adalah kata kuncinya. Hal ini disebabkan karena sesungguhnya berhutang membuat anda memiliki kewajiban membayar bunga, artinya anda membayar lebih dari seharusnya. Maka berpikirlah masak-masak sebelum membuat keputusan berhutang, apalagi jenis hutang yang konsumtif dan hanya akan menggerus kekayaan anda. (ifpcindonesia.com)

Friday, January 20, 2012

Perlukah Kita Berhutang ???

Apakah kita pernah berhutang?

Buat apa?

Bisa lunas tepat waktu?

Pertanyaan pertama saya yakin hampir semua menjawabnya pernah. Bagaimana untuk pertanyaaan kedua jawabannya mungkin lebih bervariasi. Ada yang buat renovasi rumah, DP kendaraan, atau hanya beli gadget. Kalau yang ketiga, di awal sebelum meminjam, sebagian kita pasti menjawabnya bisa.

Selama ini beberapa literatur membagi hutang menjadi 2 jenis, yaitu bad debt dan good debt. Pasti kita pernah mendengarnya. Yang pertama lebih sering kita kenal menjadi hutang konsumtif, hutang yang dipakai untuk keperluan yang sifatnya konsumtif. Kali ini kita akan lebih fokus pada jenis hutang konsumtif.

Hutang konsumtif sebaiknya dihindari karena bisa menggerus kekayaan yang kita punya. Kedengarannya ekstrim, tapi secara langsung maupun tidak hal ini berakibat kurang baik. Untuk membeli barang-barang yang sifatnya konsumtif misalnya untuk kesenangan saja, sebaiknya kita membayar tidak dengan cara berhutang. Kalaupun menggunakan kartu kredit tidak disarankan dengan membayar minimum payment, wajib LUNAS sebelum jatuh tempo.

Sekarang mari kita cek hutang yang dimiliki sekarang adalah hutang konsumtif atau bukan.

Ciri yang pertama, kalau hutang itu kita gunakan untuk membeli barang yang bernilai turun. Gadget tipe terbaru yang kita miliki tidak menunggu waktu lama akan turun nilainya. Karena pasti akan ada lagi tipe yang lebih baru. Baju dan sepatu, khususnya para wanita, adalah juga barang yang nilainya akan turun dan mode itu lebih cepat berputarnya daripada gadget.

Ciri kedua, bunga yang cenderung lebih tinggi. Kita tahu tidak bahwa bunga hutang yang paling tinggi kedua setelah bunga rentenir adalah bunga kartu kredit. Mau SBI turun juga, bunga kartu kredit tidak akan pernah turun! Bunga belanja kartu kredit rata-rata sekarang 3%-4% per bulan. Kalau disetahunkan menjadi 36%-48%. Nah, coba bandingkan dengan bunga tabungan yang hanya 2-3% dan deposito sekarang yang hanya 6% per tahun, selisihnya sangat amat jauh.

Pengalaman saya berteman dengan orang yang tidak menyadari hal ini sungguh amat menyedihkan. Punya uang simpanan di deposito yang sebenarnya nilainya cukup untuk melunasi sisa hutang kartu kredit, namun dia tidak melakukannya. Malah akhirnya hutang kartu kreditnya melebihi simpanan deposito.

Ciri selanjutnya, hutang konsumtif tidak memerlukan jaminan (kolateral). Iya, untuk bisa dapat hutang ini kita hanya perlu isi formulir yang sudah standard dan menunggu verifikasi, selesai, dapatlah uang dari berhutang itu, tanpa perlu menjaminkan apa-apa. Bentuknya bisa melalui kartu kredit atau pinjaman tanpa agunan. Tapi jangan terkecoh dengan gampangnya proses mendapatkannya. Seorang expert pernah mengatakan bahwa jika kita meminjam pinjaman tanpa agunan, itu artinya kita menjaminkan diri sendiri. Pernah terbayangkan tidak, kalau kita (maaf) meninggal dan masih punya utang kartu kredit, jangan pernah berharap bank akan memutihkan hutang tersebut. Ahli waris kita harus menanggungnya :(

Saya punya pengalaman sewaktu bekerja di bank, seorang pemegang kartu kredit meninggal dunia. Yang bersangkutan masih memiliki cicilan di kartu kreditnya berupa cicilan tetap pembelian barang elektronik. Ahli waris datang bermaksud ingin mengurus dan menyelesaikannya. Namun setelah dikonfirmasi dengan pihak yang berwenang di bank, ahli waris harus menanggung sisa cicilannya, dan apabila ingin melunasi (tidak menyicil lagi), akan dikenakan biaya pelunasan sebelum jatuh tempo.

Oke lets move, ciri terakhir adalah aset yang dibeli dengan berhutang jenis ini tidak dapat menghasilkan penghasilan yang sama atau lebih tinggi dari biaya cicilan utang (pokok + bunga). Kalau misalnya kita beli rumah untuk kita sewakan, dan uang sewanya untuk cicilan KPR kita, maka ini bukan termasuk hutang konsumtif, melainkan hutang produktif. Sama halnya dengan mobil. Apabila mobil yang kita beli digunakan untuk operational bisnis, dan pendapatan dari bisnis tersebut memberikan kontribusi yang lebih besar dari cicilan kredit mobil itu maka hutang ini juga termasuk hutang produktif.

Nah, setelah penjelasan singkat tadi, mudah-mudahan kita jadi lebih paham mengenai hutang konsumtif dan lebih berhati-hati dalam menentukan pilihan untuk berhutang :) (afcindonesia.com)

Mengapa Perusahaan MLM Harus Terdaftar di APLI?

APLI adalah singkatan dari Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia, adalah suatu organisasi yang merupakan wadah persatuan dan kesatuan te...

Find Us on Facebook

Category

buku ekonomi financial intelligence mlm money game promotion teknologi

Blog Archive

Visitors


pinjaman utang