mlm is your life

hpanetwork.id - member of PT Herba Penawar Alwahida Indonesia - lahirkan pengusaha muslim yang tangguh
Showing posts with label Profile. Show all posts
Showing posts with label Profile. Show all posts

Sunday, April 19, 2015

Regina Ivanova Serius Pelajari Bisnis MLM

Setelah namanya dikenal lewat ajang pencarian bakat menyanyi Indonesian Idol, nama Regina Ivanova (28) kini mulai menikmati sukses di dunia tarik suara.

Tak cukup sampai di situ, kini Regina Idol tertarik belajar bisnis. Ia ingin mengembangkan bakatnya di dunia bisnis dengan mempelajari bisnis multi level marketing (MLM).

Menurut dara kelahiran Jakarta, 4 Desember 1986 ini, bisnis MLM memang sudah sangat menjamur di Indonesia. Hanya saja memang harus pintar-pintar memilih perusahaan MLM mana yang memiliki pondasi kuat dalam dunia bisnis.

"Pertama sih yang harus dibangun itu pondasi ya, bawahnya dulu dikuatkan nanti pasti ke atas akan lebih baik. Mereka benar-benar membangun pondasinya, bahkan SDM-nya pun dibangun juga. Jadi bukan hanya fokus tentang menghasilkan uangnya saja," terang Regina.

Solois 28 tahun ini kerap mendapat tawaran untuk bergabung dengan berbagai macam MLM, hingga ia pun mulai tertarik untuk belajar.

"Sejauh ini aku belum pernah ikut (MLM) yang serius gitu ya, sekarang aku cukup tertarik tapi mau mempelajari lebih jauh dulu," akunya.

Thursday, February 10, 2011

Keluarga Jadi Spirit untuk Bekerja

BEKERJA dan membina rumah tangga adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Tidak mengherankan jika Head of Branc (Kepala Cabang) PT CNI Makassar, Adi Ardiansyah memposisikan kedua persoalan tersebut sama pentingnya. Bahkan, dalam hal kerja, dia menempatkan istri dan anaknya sebagai pendorong semangat atau spirit untuk bekerja lebih serius.

Sebagai kepala cabang perusahaan direct selling yang membawahi wilayah Sulawesi, Ambon, dan Papua, Adi Ardiansyah memiliki mobilitas yang cukup padat untuk mengelola perusahaan yang dipimpinnya.

Di tengah kesibukan dan tuntutan tanggung jawab yang begitu besar itulah, dorongan istri dan keluarga menjadi sangat penting bagi dia.

"Meski harus memposisikan sama antara bekerja dan kehadiran istri dan anak, saya tidak berarti mencampuradukkan urusan pekerjaan dan keluarga. Semuanya kita harus lalui tanpa harus mencampuradukkannya. Kalau waktunya bekerja maka perhatian seluruhnya harus pada masalah pekerjaan, begitu juga saat di rumah, tidak memikirkan lagi masalah pekerjaan," kata Adi Ardiansyah kepada FAJAR di Restoran Sunachi Hotel Clarion Makassar Kamis, 20 Januari malam.

Dengan prinsip ini, dia mampu memimpin perusahaan dengan baik dan tentu saja mencapai target yang telah diprogramkan, begitu juga sebaliknya mampu mewujudkan rumah tangga yang harmoni.

Baginya, memimpin perusahaan apalagi membawahi sekian banyak titik distribusi, yang dibutuhkan adalah kemampuan leadership dan manajerial dalam menentukan tercapainya target yang diinginkan.

Leadership dan manajerial inilah yang paling dominan dalam menentukan kesuksesan seseorang, baik dalam hal pekerjaan begitu juga dalam hal membangun rumah tangga.

Pria yang pernah menjadi pegawai bank selama delapan tahun ini, menyatakan bahwa dalam mengelola dan memanage pekerjaan khususnya karyawan, pengaturan tugas yang baik menjadi senjata untuk membangun team work yang kuat. Makanya, tidak heran sebagai kepala cabang yang membawahi wilayah timur, Adi Ardiansyah telah menyusun program kerja yang menjadi pedoman bagi karyawan untuk bekerja selama satu tahun.

"Saya tinggal memberikan rencana kerja dan strategi yang harus dikerjakan. Selanjutnya, saya berikan kepercayaan kepada mereka untuk menjalankan strategi yang sudah dibuat," kata Adi Ardiansyah.

Adi hanya memaksimalkan monitoring terhadap seluruh karyawan yang ada. Makanya dalam satu bulan, Adi Ardiansyah menuntut dirinya untuk melakukan perjalanan keluar kota guna mengontrol perusahaan yang dibawahinya, baik di wilayah Sulawesi, Ambon, dan Papua.

Tantangan terberat dalam membina karyawan adalah ketika berhadapan dengan karakter karyawan yang berbeda-beda. "Punya seratus karyawan, juga harus memiliki seratus cara untuk membimbing mereka karena karakter yang berbeda. Namun sepanjang kita tahu bagaimana karakternya, pasti kita mampu membina karyawan dengan baik," katanya.

Memimpin perusahaan yang bergerak di bidang penjualan langsung, dia menyebutkan bahwa yang paling dibutuhkan adalah membangun team work yang kuat. Dengan tim kerja yang kuat ini, target sebesar apapun yang ingin dicapai pasti akan terwujud. Team work inilah nomor satu dalam persoalan mewujudkan target yang telah ditetapkan.

Tidak kalah pentingnya kata dia adalah bagaimana memberikan reward atau penghargaan terhadap karyawan yang berprestasi. "Membina karyawan saya sama ratakan, tidak ada istimewa. Apalagi yang namanya faktor kedekatan, saya tidak mengenal kamus seperti itu," kata Adi Ardiansyah.

Dia bahkan menganut slogan: we are doing bussiness in familiar, but we are not family in doing business. "Artinya, kita bekerja dalam suasana kekeluargaan, tapi kita bukan keluarga yang bekerja dalam satu tim," jelas Adi Ardiansyah. (fajar.co.id)

Wednesday, February 9, 2011

Philip Zepter: Mendongkrak omzet dengan multilevel marketing

Selain memproduksi dan menjual perkakas rumahtangga, Philip Zepter juga mencoba pelbagai bisnis baru. Ia masuk ke dalam usaha peralatan medis, kosmetik, telekomunikasi, aksesori perhiasan, jam hingga perbankan. Rentang bisnis yang besar tersebut membuat Zepter harus membangun tenaga pemasaran yang kuat. Dengan mengusung konsep pemasaran berjenjang, tercatat sebanyak 130.000 salesman ada di bawah Zepter International.

Cerita sukses Philip Zepter bermula pada 1986. Di tahun tersebut, ia keluar dari pekerjaannya sebagai tenaga pemasaran dan mendirikan perusahaan perkakas rumah tangga dan dekorasi meja. Perusahaan yang didirikan dari hasil tabungannya itu berkantor pusat di Linz, Austria.

Produk perkakas yang diberi merek Masterpiece Cookware itu juga tumbuh besar di Milan, Italia. Zepter kemudian mendirikan pabrik bernama Menfi Industria di Milan seluas 24.000 meter persegi. Pabrik itu berkapasitas 1 juta unit alat-alat dapur per tahun. Merek Masterpiece Cookware juga menjadi tonggak berdirinya Zepter Empire. Saat ini, ada tujuh pabrik perkakas Zepter yang tersebar di Jerman, Italia, dan Swiss.

Dari pabrik-pabrik itu, Zepter International berkembang menjadi perusahaan sukses yang fokus pada produksi dan penjualan produk eksklusif serta berkualitas tinggi. Selain perlengkapan rumah tangga, Zepter juga memasarkan produk medis, perawatan tubuh, dan kecantikan.

Zepter memulai bisnis medis dan kecantikan pada 1996. Saat itu ia membeli Bioptron AG yang berbasis di Swiss. Perusahaan itu memproduksi alat terapi cahaya yang membantu penyembuhan luka dan menghilangkan bekas luka. Alat terapi ini juga dapat digunakan untuk mengurangi rasa sakit dan merawat kulit.

Kesuksesan Zepter dalam bisnis medis dan kecantikan terlihat dari banyaknya penjualan alat terapi cahaya merek Bioptron. Saat ini, lebih dari 2 juta orang memiliki Bioptron Light Therapy System. Banyak klinik rehabilitasi ternama di dunia juga menggunakan produk Bioptron sebagai prosedur standar medis mereka.

Pada 1996, Intercosmetica Neuchâtel SA juga bergabung dengan Zepter. Setelah berkongsi dengan perusahaan asal Swiss itu, ia menaruh perhatian lebih banyak dalam bidang penelitian dan pengembangan kosmetik. Dia mendirikan laboratorium bioteknologi baru dan meningkatkan kapasitas produksi, terutama produk-produk kosmetik dengan pasar kelas menengah atas.

Zepter juga merambah pembuatan perlengkapan rumah tangga dengan bahan baku tulang dari China, aksesori perhiasan, jam, dan pena. Itu sebabnya, selain tujuh pabrik perkakas, Zepter juga memiliki 10 pabrik lain dengan teknologi tinggi di Prancis, Jerman, Italia, dan Swiss.

Tak hanya itu, Zepter juga terjun ke dunia perbankan dan telekomunikasi. Sekarang dia menguasai dua bank, satu perusahaan asuransi, dan operator telepon selular, Zepterfone.

Keberhasilan Zepter membangun kerajaan bisnisnya tak lepas dari jumlah tenaga pemasaran yang sangat besar. Tercatat sebanyak 130.000 konsultan penjualan secara global ada di bawah Zepter International. Ia menggunakan konsep multilevel marketing atau pemasaran berjenjang untuk membuka pintu pasar kosmetik. Dengan tenaga pemasaran yang besar, Intercosmetica Neuchâtel saat ini mampu memproduksi rata-rata 5 juta produk setiap tahun.

Kini, Zepter International telah menjadi perusahaan dunia dengan penjualan di lebih 50 negara. Toko miliknya juga berada di lebih dari 320.000 m2 ruang bisnis kota-kota besar di dunia. Bahkan, setiap tahun, lebih dari 65 juta orang ikut serta dalam presentasi penjualan produk-produknya. Tim pemasaran juga kerap langsung datang menuju rumah-rumah calon konsumen. Tak salah, Zepter sangat sukses dengan menggaet lebih dari 760 juta orang menjadi pembeli produk-produknya.

Makanya, kekayaannya juga berlipat-lipat, termasuk kepemilikan terhadap 50 paviliun di lokasi atau kota utama dunia, seperti Paris, Moskow, Monte Carlo, Praha, dan Barcelona. (kontan.co.id)

Sunday, January 30, 2011

Tertantang di Perusahaan MLM

SEDIKIT orang yang bisa bertahan lama di bisnis yang bergerak dalam bidang multilevel marketing (MLM). Namun, tidak bagi Adi Ardiansyah. Dalam menapaki kariernya hingga ke puncak sebagai Head of Branch PT Citra Nusa Insan Cemerlang (CNI) Makassar, Adi sudah 14 tahun membangun kiprah di perusahaan MLM ini. Sebuah jangka waktu yang tidak singkat.

Di Makassar sendiri, Adi mulai 2007 lalu. Sebelumnya, dia di Kantor Cabang Balikpapan. Adi mengaku sangat tertantang bisa bergabung dalam perusahaan MLM. Menurutnya, MLM sama saja dengan konvensional, namun, mereka lebih kuat pada marketingnya.

Di sini, Adi mengaku betah karena bisa bertemu dengan banyak orang, dan bisa berbagi ilmu dengan orang banyak tersebut. Lelaki kelahiran Samarinda, 25 Agustus 1965 ini menambahkan, perusahaannya juga mulai meninggalkan orientasi MLM yang melulu bicara memprospek orang untuk bergabung. CNI sudah mulai fokus dengan pengembangan produk dan customer. "Orientasi kami di CNI sudah berubah,” terangnya saat berkunjung ke redaksi Fajar baru-baru ini.

Menurutnya, CNI dulunya lebih berorientasi pada bisnis (business oriented). Karena itu, orientasinya lebih banyak menjual dan lebih banyak mengajak orang untuk bergabung di CNI. Sekarang ini, kata dia, orientasi itu sudah ditinggalkan. CNI lebih fokus pada customer oriented, jadi lebih ke pengembangan pelanggan dan pengembangan produk. "Member kami yang terus mengonsumsi produk CNI sudah banyak. Mereka sudah jadi pelanggan loyal," tutupnya. (fajar.co.id)

Mengapa Perusahaan MLM Harus Terdaftar di APLI?

APLI adalah singkatan dari Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia, adalah suatu organisasi yang merupakan wadah persatuan dan kesatuan te...

Find Us on Facebook

Blog Archive

Visitors


pinjaman utang